Kamis, 27 Januari 2011

in a rush

waktu ngetik ini tulisan, aku lagi ngedengerin lagu In a rush-nya Blackstreet dan sambil ngeliat tipi yg lagi muterin video Setiap detik-nya Hijau daun. Entah bagaimana, kedua lagu ini menyiratkan dan melisankan sebuah perasaan yg sama : sama-sama kangen dengan seseorang di ujung belahan dunia sana tapi tak bisa diungkapkan, lalu teringat dengan si dia itu. Terlebih, keduanya menggambarkan perasaan yg juga sama.
Dari lagu-lagu yg keduanya berasal dari dunia para pewaris gen Y ini, otak aku yg ber-IQ secukupnya ini langsung berpikir, apakah mungkin seorang pewaris gen Y itu bakal sampe mau nangis gara-gara hanya seorang cewe?
"It came over me in a rush when i realized that i love you so much, that sometimes i cry...'"
apakah mungkin seorang cowo benar-benar akan menangis demi seorang dewi pujaan hatinya? Dimana bakal aku temukan lelaki yg seperti itu dikehidupan nyata seperti ini?
Lelaki, dan menangis.
Suatu idiom kata yg tak perlu kita argumentasikan lebih dalam, memang amat jauh hubungannya.
Sejak kecil, lelaki diajarkan TIDAK MENANGIS dalam urusan apapun.
Mungkn itulah yg terjadi dewasa ini. Begitu banyak lelaki yang memang benar tidak menangis!
Begitu banyak lagu yang memang dinyanyikan dan tak jarang diciptakan seorang lelaki, gara-gara putus hati
Apakah di dunia nyata, memang ada lelaki yg teramat sayang sama dewi-nya sehingga merasa teramat jatuh ketika dewi-nya pergi?

Ya, pria juga punya perasaan
Iya, kalimat itu tak sepenuhnya salah
Tapi ada tidak lelaki yg menangisi kepergian kekasihnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar